Sajak-Romantis-Yohanes-Eka-Chandra-Rambah-Dunia-Music

SAJAK-SAJAK ROMANTIS YOHANES CHANDRA EKAJAYA RAMBAH DUNIA MUSIK

Dalam panggung kesenian hari ini, sangatlah banyak terjadi sebuah pertukaran medium kesenian. Salah satu contohnya dalam dunia seni rupa, para seniman tak lagi hanya berkutat pada dunia serupa yang serba terbatas- dalam hal ini hanya mengutamakan kanvas dan gambar-gambar yang estetik. Namun, ruang-ruang seni rupa telah menjelma dalam bentuk lain seperti perform (pertunjukan), sastra, dan sebagainya. Hal serupa juga dilakukan dalam dunia perpuisian Indonesia, dimana puisi tak lagi terbatas hanya berkutat soal bagaimana membuat sebuah kata-kata yang tampak indah dan menarik. Melihat situasi demikian, Yohanes Chandra Ekajaya, seorang penyair muda berbakat sekaligus penulis buku kumpulan puisi Hujan di Tepi Sungai Nil dan Cinta dan Secangkir Kopi untuk Monica melakukan terobosan demikian.


sajak-romantis-yohanes-eka-chandra-rambah-dunia-music1

Menggandeng sekelompok musisi bernama “Gegar Gempita”, Yohanes Chandra Ekajaya mencoba meleburkan sajak-sajak yang berkesan romantisnya menjadi sebuah rangkaian lagu yang bercitarasa musik tinggi dengan paduan lirik yang membuat pendengarnya terkesan. Bersama Gegar Gempita, sekitar 10 sajak romantis karya Yohanes Eka Jaya disulap menjadi sangat menawan.

sajak-romantis-yohanes-eka-chandra-rambah-dunia-music2

Dunia musik dan perpuisian tanah air tentu mengenal duet Ari Reda yang berhasil membawakan puisi-puisi karya penyair Sapardi Djoko Damono menjadi tampak romantis dan indah. Imaji yang menawan, dipandu dengan lengkingan suara duet tersebut membuat puisi-puisi Sapardi menjadi sebuah lagu yang teramat syahdu. Hal serupa juga dilakukan oleh Yohanes Chandra Ekajaya dan Gegar Gempita, dimana kesepuluh sajak romantis Yohanes Chandra Ekajaya seperti: “Rindu Kampung Halaman”, “Malena”, “Roman Cinta dalam Sebuah Senja”, “Udara Pagi Hari”, “Secangkir Kopi”, “Sahabat”, “Paradoks Waktu”, “Warna Cinta”, “Persinggahan Waktu”, dan “Rembulan dalam Cerlang Matamu”, dikumpulkan dalam sebuah album musikalisasi puisi berjudul “Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman”.

Nuansa lirikal yang teramat kaya, ditambah komposisi musik folk membuat kolaborasi Yohanes Chandra Ekajaya dan Gegar Gempita hadir dalam ciri khasnya masing-masing. Seperti dalam lagunya yang berjudul Roman Cinta dan Sebuah Senja, tertangkap sebuah kesan romantis dengan komposisi musik yang mendalam. Nuansa sendu seperti lagu-lagu Simon & Garfunkel, maupun kesan sunyi ala Sigur Ros semakin menguarkan selera musik yang begitu tinggi.

Dikeluarkannya album “Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman” kolaborasi Yohanes Chandra Ekajaya dan Gegar Gempita ini memberikan efek bagi kedua penggemar tersebut. Yohanes Chandra Ekajaya yang memiliki penggemar di dunia perpuisian maupun kesusasteraan di tanah air, dan Gegar Gempita yang memiliki fans pula di panggung musik Indonesia menjadikan proyek kolaborasi tersebut akan menciptakan dinamik antar kutub kesenian.

“Proyek album musik puisi bersama Gegar Gempita, merupakan sebuah kerjasama yang sangat menyenangkan. Ia merupakan kelompok musik yang patut diacungi jempol dan saya bangga beberapa puisi-puisi saya dapat diapresiasi secara berbeda.” cerita Yohanes Chandra Ekajaya dalam wawancara tersebut.

sajak-romantis-yohanes-eka-chandra-rambah-dunia-music

Selain itu, kelompok musik Gegar Gempita yang menjadi pembuat musik dalam kolaborasi Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman mengaku beruntung dan senang dapat mengapresiasi sajak-sajak romantis Yohanes Chandra Ekajaya.

“Merupakan sebuah kebanggan bagi kami dapat bekerjasama dan diberi kesempatan untuk mengeksplor sajak-sajak Romantis Yohanes Chandra Ekajaya,” ungkap Tata seorang personil dari kelompok musik Gegar Gempita.

Sampai sejauh ini, para penggemar sajak-sajak romantis Yohanes Chandra Ekajaya dan fans dari kelompok musik Gegar Gempita berbondong-bondong untuk membeli karya dari kedua seniman tersebut.