sosmed-719x400

Yohanes Chandra Ekajaya Media Sosial Dalam Sorotan

Media Sosial┬átumbuh bersamaan keberadaan fasilitas internet. Sisi-sisi menonjol, Pertama, jangkauan hingga mancanegara yang memiliki akses internet. Kedua, informasi terkini atau “ocehan” yang ingin dipublikasikan apa saja dapat disajikan. Ketiga, kecepatan untuk menyiarkan. Keempat, siapa saja dapat ambil bagian dalam aktivitas media sosial ini, seperti apa yang dikatan Yohanes Chandra Ekajaya bahwa menurutnya saat ini bukanlah masyarakat yang mengontrol sebuah sosial media, akan tetapi sosial media lah yang mengontrol masyarakat saat ini.

strategi-pemasaran-online-760x372

Sungguh memprihatinkan. Tetapi, benarkah demikian? Sudah sejauh itukah kualitas isi medsos?. Mari kita simak dengan teliti. Tidak apriori dan tak berpihak. Tetapi, jika reaksi publik sudah meluas apalagi jika terbentuk opini publik (public opinion), biasanya inti sorotan atau isu yang berkembang di tengah warga cenderung ada yang benar. Hal semacam ini, sebenarnya tidak cuma di Indonesia. Di negara-negara maju seperti di kawasan Eropa juga begitu. Sehingga, di beberapa negara di sana, sudah diberlakukan denda atau dikenakan sanksi terhadap medsos yang terbukti merugikan atau mencemarkan nama baik orang/pihak tertentu.

 

Dalam kondisi seperti ini, Yohanes Chandra Ekajaya pun menyatakan empat hal. Pertama, tidak semua media sosial berisi sajian negatif. Artinya, generalisasi atas semua medsos seolah-olah semacam itu, tidaklah tepat. Mungkin demikian banyak isi medsos yang bohong/fitnah, akhirnya secara umum begitulah anggapan publik. Kedua, saatnya pengelola media online dan/atau perorangan melakukan introspeksi dan evaluasi atas akun medsos mereka. Hal ini patut dilakukan secara terus menerus agar isi medsos tidak ke luar dari koridor kepatutan. Dan, lebih dari itu tidak berlawanan dengan ketentuan yang berlaku. Ketiga, kiranya disadari keharusan adanya seleksi sebelum sajian disiarkan. Terakhir, keempat: Pemerintah harus mengambil tindakan tegas terhadap medsos yang memang menyebarkan berita bohong, fitnah, menghasut dan sejenis itu. Tidak saja yang merugikan personal warga, melainkan yang berakibat nasional seumpama keresahan terkait perbankan.

 

Dari sisi lain, semua orang yang bermain dengan internet, termasuk dalam medsos kiranya jangan menggunakan dalih kebebasan mengeluarkan pendapat, lalu seenaknya seolah-olah bebas seribu persen. Jangan lupa, dalam kebebasan pers atau freedom of the press juga ada batasan seperti memperhatikan hak privasi. Contoh lain, terkait trial by the press atau berita media yang menghakimi, padahal kasus masih dalam proses hukum. Begitu pula dengan medsos, agar disadari benar tentang adanya batasan itu. Tak luput, medsos seharusnya peduli pada sisi untuk menghormati hak asasi manusia (HAM). Pers kini juga mengutamakan apa yang dikenal dengan jurnalisme berbasis HAM. Jadi, Anda yang ikut atau yang “ikut-ikutan” dalam medsos berkenan untuk menerima prinsip kebebasan berpendapat memang ada batasnya.

sosmed

Solusinya apa ? Yohanes Chandra Ekajaya berpendapat, sederhana saja. Sama sederhananya saat kita masuk ke dalam medsos, tidak butuh organisasi resmi. Ayo sajikan info yang benar. Jika ada pendapat/komentar, pikirkan dengan matang. Seleksi dengan ketat, agar menjadi sajian yang bermutu. Jika tak berkualitas (misalnya ringan/humor) setidaknya tak menyinggung, tak melanggar HAM, tidak merugikan/tidak mencemarkan nama baik perorangan, juga tidak merusak citra lembaga/perusahaan dan seterusnya. Sepanjang dalam batas toleransi dan normal, agaknya memang tak menjadi problema. Sehingga medsos bermanfaat bagi semua pihak. Mari kita sajikan sesuatu yang informatif, edukatif termasuk hiburan dan interaktif sehat melalui ocehan sopan, melalui pilihan kata/kalimat yang santun.