Yohanes Chandra Ekajaya Menggapai Mimpi2

Yohanes Chandra Ekajaya Menggapai Mimpi

Pada mulanya hanyalah mengenai sebuah mimpi, tetapi kemudian mimpi itu berkembang menjadi sebuah obsesi. Yohanes Chandra Ekajaya, pemilik nama itulah yang membangkitkan mimpi itu menjelma menjadi singa liar yang hendak menerkam segala kesempatan. Selama ini mimpi itu bersembunyi dalam diri manusianya yang penuh dengan penderitaan dan ketidakadilan. Berlatar belakang sebagai seorang anak yang dilahirkan dalam lingkungan yang kumuh, ia sebenarnya telah merasa cukup. Tetapi, dunia yang berada di luar batas kampungnya, selalu nyinyir dan memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang senasib seperti dirinya.

Yohanes Chandra Ekajaya Menggapai Mimpi

“Bajigur, tutup irung, ana wong kere lewat,” ucap seorang anak yang cukup mapan kepada teman-temannya. Yohanes Chandra Ekajaya yang sedang lewat berpas-pasan dengan kelompok tersebut mengerti bahwa yang dimaksudkan orang kere tersebut adalah dirinya. Anak-anak yang berasal dari keluarga mapan tersebut menganggap dirinya seperti sampah yang harus dihindari. Di dalam hatinya, Yohanes menangis dan hanya bisa menangis. Ia tidak mengutuk anak-anak dari keluarga kaya itu. Tetapi ia pun mulai mempertanyakan kepada Tuhan, “mengapa aku Kau berikan nasib seperti ini? Apakah aku tidak bisa memilih nasibku sendiri?” tanyanya dalam hati.

Hari menjelang petang, Yohanes Chandra Ekajaya sedang berada di rumahnya. Rumah yang sebenarnya lebih pantas disebut kamar itu luasnya hanya 4×3 meter. Bukan dari tembok batu bata, tapi hanya dari sisa-sisa seng, triplek, dan kardus, dari barang-barang yang ia pungut saat memulung. ia tinggal sendiri. Kedua orang tuanya pergi meninggalkannya saat ia berusia enam tahun. Kedua orang tuanya pergi untuk bekerja, mencari sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan atau dijual kembali kepada para pengepul.

Sehari, dua hari, bahkan hingga berminggu-minggu kedua orang tua Yohanes Chandra Ekajaya tak kembali ke rumah. Yohanes mencoba berkeliling kota, mencari kedua orang tuanya. Tetapi usahanya sia-sia. Akhirnya ia pun juga menjadi pemulung seperti kedua orang tuanya, mencari benda-benda yang sudah tak terpakai atau sampah. Suatu ketika, Yohanes melihat surat kabar lama, ia membaca sebuah artikel yang memberitakan bahwa telah terjadi pembunuhan di Jalan Pasetran Gondolayu. Korban jiwanya adalah dua pemulung yang tidak diketahui identitasnya. Berdasarkan berita tersebut, kedua pemulung berusaha mencoba menolong orang yang sedang dijambret. Pada saat menghadang penjambret, kedua pemulung justru ditusuk menggunakan pisau, dan kemudian penjambret itu kabur.

Tak terasa air mata Yohanes Chandra Ekajaya mengalir deras di kedua pipinya. Ia sangat yakin bahwa kedua pemulung tersebut adalah kedua orang tuanya. Meskipun Yohanes sangat ingin melihat jenazah kedua orang tuanya, tetapi ia tidak mengerti harus berbuat apa dan bagaimana. Akhirnya ia hanya pasrah kepada Tuhan dan mendoakan orang tuanya semoga meninggal dalam keadaan yang baik. Ia akan selalu mengingat ajaran-ajaran yang diberikan orang tuanya. Orang tua Yohanes hanya membekalinya dengan ilmu baca tulis. Setidaknya itu sangat berguna bagi Yohanes, karena dengan begitu, ia bisa mengusir rasa sepi dan sunyi dengan membaca koran-koran atau buku-buku bekas yang ia temukan di tempat sampah.

Hari-hari berjalan seperti biasanya. Rumah-rumah warga, perumahan elite, dan tempat pembuangan akhir selalu disambangi oleh Yohanes Chandra Ekajaya. Hingga pada suatu hari, Yohanes menemukan sebuah tas yang cukup besar diantara tumpukan-tumpukan sampah. Selain itu hari juga sudah senja menjelang petang, maka Yohanes pun pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia tidak langsung beristirahat, tetapi ia memilah barang-barang yang dipulungnya sesuai dengan kelompok atau jenisnya. Hingga tibalah pada tas yang cukup besar itu.

Yohanes Chandra Ekajaya membuka tas itu. Ia kaget dan juga bingung. Tumpukan uang seratus ribuan dan dokumen-dokumen. Hati, perasaan, dan jiwanya mulai tenang. Ia kemudian keluar rumah melihat sekitar, apakah ada orang atau tidak. Malam itu sangat sepi. Akhirnya ia masuk lagi dalam rumah. Ia kunci rumahnya dari dalam. Kemudian ia mulai menghitung berapa jumlah uang yang ada dalam tas tersebut.

Yohanes Chandra Ekajaya Menggapai Mimpi2

Uang dalam tas tersebut berjumlah 1 miliar rupiah. Yohanes Chandra Ekajaya mulai takut. Bagaimana bila uang ini ditemukan dan ia malah dituduh sebagai pencuri. Ia berpikir demikian karena masyarakat memang masih memiliki pandangan yang buruk terhadap pemulung. Selain itu, kadang memang ada pemulung yang menggunakan kesempatan untuk berbuat hal-hal yang kurang terpuji. Lantas ia membuka dokumen-dokumen dan membacanya. Yohanes berpikir siapa tahu ia bisa mengetahui alamat pemilik tas tersebut.

Semua dokumen tersebut ia baca, tetapi tidak ada nama dan alamat seseorang. Yohanes Chandra Ekajaya hanya menemukan sebuah nama perusahaan dan alamatnya. Yohanes memutuskan untuk mendatangi alamat perusahaan tersebut esok harinya. Ia enggan untuk melaporkan temuannya itu ke polisi atau pihak berwajib. Ia takut bila nanti dituduh sebagai pencuri. Sesudah mencatat alamat itu pada kertas, Yohanes merapikan semua uang dan dokumen itu ke dalam tas. Lalu menyimpan tas itu di dalam rumah.

***

Suara adzan subuh berkumandang di langit-langit fajar. Yohanes Chandra Ekajaya sudah bangun. Ia hanya mencuci muka dan segera bersiap-siap untuk mengantarkan tas yang ia temukan kemarin. Jarak rumah dan alamat perusahaan yang akan ia datangi sangatlah jauh. Bila menggunakan bus atau angkot tentu akan lebih cepat, tetapi ia takut dicurigai dan dituduh pencuri. Ia samarkan tas itu ke dalam keranjang pulungnya. Dengan mantap, Yohanes mengarungi hari ini dengan melangkahkan kakinya.

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, Yohanes Chandra Ekajaya mulai memasuki wilayah kota. Sandal jepit yang dipakainya sudah tipis dan hampir putus. Kaos yang agak kotor, dan celana yang sudah sebulan tidak dicuci ia kenakan. Beberapa kali ia bertanya kepada orang-orang yang ia temui di jalan. Tidak sedikit orang yang tak mengacuhkannya. Tetapi ada juga beberapa orang yang mau membantunya dan memberitahu arah di mana alamat tersebut.

Sudah hampir empat jam Yohanes Chandra Ekajaya berjalan. Akhirnya ia menemukan alamat perusahaan tersebut. Ia terlihat gembira dan senang, karena alamat yang ia cari sudah ketemu. Sesampainya di depan pintu gerbang ia dihadang oleh satpam perusahaan tersebut. Satpam tersebut merasa jijik dan risih dengan tampilan Yohanes.

“Koen arep ngopo? Neng kene pemulung gak oleh mlebu,” tanya satpam.

“Aku arep ketemu mbek sing nduwe perusahaan iki Pak,” jawab Yohanes.

“Wo lha kere gak cetho. Koen gak ngilo dapurmu iku? Koen iku kere, malah njaluk ketemu sing nduwe perusahaan. Arep ngopo koen? Njaluk duit? Ngemis?,” ucap satpam.

Meskipun ucapan satpam itu kasar, tapi Yohanes Chandra Ekajaya tidak mengambil hati. Sebab ia sudah terbiasa dihina seperti itu. Ia pun menimpali pertanyaan satpam tersebut,” gak Pak. Aku iki arep mbalekna tas sing daktemu neng tempat sampah.”

“Tas po’o? Ndelok kene.”

Satpam pun langsung memeriksa tas yang dimaksudkan oleh Yohanes Chandra Ekajaya. Satpam pun langsung kaget karena melihat jumlah uang yang sangat banyak. Ia pun langsung menghubungi kepala keamanan dan manajer perusahaan.

Manajer dan kepala keamanan memberikan instruksi kepada satpam untuk membawa Yohanes Chandra Ekajaya masuk ke dalam kantor, dan dibawa ke ruang keamanan. Saat tiba di ruang keamanan, di sana kepala keamanan dan manajer sudah menunggu.

Kepala keamanan langsung bertanya kepada Yohanes Chandra Ekajaya,” koen nyolong tas iki? Wani-wanine koen nyolong tas iki? Heh!”

Yohanes Chandra Ekajaya kaget, hatinya memberontak. Apakah hanya karena tampilan dan profesinya sebagai pemulung lantas ia langsung dicap sebagai pencuri. “Aku gak maling Pak.. Aku iku..”

Belum selesai Yohanes Chandra Ekajaya berucap, kepala keamanan memotongnya. “Wis gak usah kakean bacot koen. Maling koen iku!”

Manajer perusahaan kemudian mengecek isi dari tas tersebut. Ia menghitung jumlah uang dan memeriksa semua dokumen yang ada dalam tas itu. Saat selesai memeriksanya, ia menyuruh kepala keamanan dan satpam untuk membawa Yohanes Chandra Ekajaya ke kantor polisi dan melaporkannya atas tindakan pencurian. Kemudian keluar sambil membawa tas tersebut.

Yohanes Chandra Ekajaya tentu saja kaget dan memberontak secara fisik. Tetapi apa daya, karena kurang makan dan kurang gizi, badannya tak mampu melawan satpam dan kepala keamanan yang menggirinya ke kantor polisi.

Sesampainya di kantor polisi, Yohanes Chandra Ekajaya langsung dijebloskan ke penjara. Ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan kronologi dan peristiwa yang terjadi. Ia hanya mampu berteriak dari balik jeruji penjara,” Pak, aku guduk maling, aku guduk maling…“

Yohanes Chandra Ekajaya hanya mampu berteriak hingga serak, sampai kemudian ia merasa lelah dan menangis. Kali ini ia sungguh mengutuk Tuhan dan kehidupan. Mengapa kehidupan ini begitu tidak adil terhadap orang yang tidak berpunya.

Sehari, dua hari, hingga dua minggu jeruji penjara menjadi teman bercerita Yohanes Chandra Ekajaya. Ia merindukan masa-masa bersama kedua orangtuanya. Dimana ia menceritakan mimpi-mimpinya. Ia pernah bermimpi untuk bersekolah dan meraih ilmu setinggi-tingginya, supaya dapat membantu kedua orang tua, serta menaikkan harkat dan martabat keluarga mereka. Tetapi, kedua orang tuanya telah tiada. Kini ia pun dipenjara. Apakah mimpinya hanya akan sekedar menjadi mimpi?

***

Di suatu pagi yang agak mendung, cuaca mendadak menjadi dingin. Dari lubang ventilasi terlihat kumpulah awan-awan hitam mulai menggumpal seakan hendak mengatakan bahwa hari ini akan hujan. Tiba-tiba salah satu polisi memukul jeruji besi di sel penjara Yohanes Chandra Ekajaya. ” Koen bebas. Ono sing njamin koen. Gek siap-siap metu,” ucap polisi tersebut.

Dengan tubuh lemas, Yohanes Chandra Ekajaya perlahan-lahan keluar dari sel penjara yang ia tempati. Ia masih menyipitkan matanya, karena cahaya matahari terlalu terang bagi matanya yang selama dua minggu ini berada dalam kegelapan. Di depan petugas administrasi kepolisian, ia diberikan surat-surat. Kemudian Yohanes bertanya,” sepurane Pak, arep takon, sing njamin aku sopo’a?”

Tak lama setelah Yohanes Chandra Ekajaya menanyakan tentang siapa yang menjamin dirinya. Datang seorang bapak yang kira-kira berusia 50-an tahun. Ia tersenyum kepada Yohanes, dan berkata,” perkenalkan, saya Chandra Jaya Eka Sudiro. Saya adalah pemilik perusahaan yang dulu tasnya kamu temukan. Maafkan para pegawai saya yang telah salah dan menjebloskanmu ke dalam penjara.”

“Sebagai permintaan maaf, habis ini kita ke mall. Kamu mandi, dan cari baju yang pas sesuai denganmu. Lalu kita makan. Gimana? Mau kan?” tanya Chandra Jaya Eka Sudiro.

“Iya Pak. Matur suwun,” jawab Yohanes Chandra Ekajaya.

Lalu keduanya menuju ke parkiran kantor polisi. Sopir membukakan pintu. Yohanes Chandra Ekajaya dan Chandra Jaya Eka Sudiro masuk ke dalam mobil. Mewah dan elegan, sungguh cocok dengan gaya Chandra Jaya Eka Sudiro.

Singkat cerita, Yohanes Chandra Ekajaya mandi dan membersihkan diri. Kemudian ia memilih baju di beberapa gerai toko. Lalu makan bersama di sebuah food court mall. Kemudian Chandra Jaya Eka Sudiro menanyakan kehidupan pribadi Yohanes .

Merasa diperlakukan sebagai layaknya manusia, Yohanes Chandra Ekajaya tanpa ragu menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Chandra Jaya Eka Sudiro. Ia juga menceritakan mimpi-mimpinya kepada beliau.

“Bagaimana kalau kamu tinggal di salah satu rumah saya? Kebetulan rumah saya yang di kota ini kosong. Lebih baik kamu tempati saja. Dan kamu juga harus sekolah. Supaya mimpi-mimpimu nanti bisa tercapai. Supaya kedua orang tuamu yang sudah meninggal bisa berbangga karena mempunyai anak sepertimu,” ucap Chandra Jaya Eka Sudiro.

Yohanes Chandra Ekajaya sangat senang mendengar penawaran tersebut. Ia berjanji bahwa ia akan bersekolah dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Ia ingin menggapai mimpinya.

***

Kini hari-hari Yohanes Chandra Ekajaya diisi dengan kegiatan sekolah dan belajar. Hanya tiap pagi dan sore hari ia tak lupa berolahraga untuk menjaga kondisi badan dan kesehatannya. Yohanes menyadari bahwa dirinya tertinggal dari teman-teman sebayanya, oleh sebab itu ia harus mengejar ketertinggalannya dengan belajar lebih giat.

Semua buku pelajaran ia baca. Kegiatan ekstra kurikuler yang menunjang impiannya ia ikuti. Akhirnya dari tahun ke tahun, prestasi Yohanes Chandra Ekajaya semakin bagus dan terus meningkat. Ia tidak pernah melupakan kebaikan hati dari Chandra Jaya Eka Sudiro. Ia juga tak lupa bersyukur kepada Tuhan, dan meminta maaf kepada-Nya karena pernah mengutuk kehidupan dan diri-Nya.

Dua belas tahun berlalu, kini Yohanes Chandra Ekajaya telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Ia mengambil jurusan pertambangan. Ia juga telah menjadi pengusaha yang sukses. Sewaktu SMA ia sudah berwirausaha dan mendapatkan pengalaman dalam produksi dan penjualan.

Seiring dengan pengalaman, kejiwaan, dan pengetahuan yang matang, Yohanes Chandra Ekajaya yang sejak kecil telah ditinggalkan kedua orang tuanya, ingin berbakti kepada bangsa dan negara ini. Sebab, bangsa dan negara inilah yang memberinya kesempatan untuk belajar dan mematangkan dirinya sebagai manusia.

Ditunjang pendidikan tingginya di bidang pertambangan, Yohanes Chandra Ekajaya mempelajari bahwa bangsa Indonesia sangat kaya. Bangsa Indonesia memiliki berbagai macam sumber daya alam, khususnya di bidang tambang dan minyak bumi.

Sebagai putra bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan di bidang pertambangan dan migas, Yohanes Chandra Ekajaya ingin memajukan industri tambang dan migas Indonesia. Kenangan-kenangan saat dirinya masih miskin terus memacu Yohanes Chandra Ekajaya untuk belajar dan bekerja lebih giat, supaya anak-anak, dan masyarakat miskin tidak merasakan nasib seperti dirinya.

***

Di sebuah kantor, di ruangan yang luas bagaikan ruang tamu istana. Duduk seorang pria muda berjas, sedang menandatangani dokumen-dokumen. Ia berkacamata, gurat-gurat wajahnya menunjukkan kematangan. Meja kerjanya sangat lebar. Terdapat papan nama yang tulisannya berwarna tinta emas. Tulisan itu terbaca “Direktur Utama: Yohanes Chandra Ekajaya”.